Seberapakah kamu bisa menghadapi hatimu dengan sangat nyaman? Itulah yang saya tanyakan kepada teman saya saat mereka meminta pendapat saya mengenai ”kejamnya” hidup (Halah…). Kadang memang adakalanya kita menganggap hidup ini tidak adil. Kita selalu menuduh Tuhan tidak sayang kepada kita bila yang kita inginkan tidak bisa kita raih, terutama yang berhubungan dengan hati (Nah lo…).

Memang adakalanya apa yang kita harapkan menjadi milik kita tidak semudah itu bisa kita dapatkan. Kadang kita butuh perjuangan yang luar biasa hebatnya untuk mewujudkan suatu impian. Seperti misalnya saat kita menginginkan seseorang menjadi pacar kita, kita akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, mulai dari melakukan hal-hal konyol maupun hal-hal yang di luar logika (pikir sendiri deh..). Tetapi bila pada akhirnya kitapun tidak mendapatkannya, apa yang akan kita lakukan?

Sebagian di antara mereka memilih untuk tetap menunggunya sampai mereka luluh. Karena setiap orang pasti mempunyai hati yang akan tetap bisa disentuh dengan perhatian, sedingin atau sekaku apapun, hati mereka pasti ada celah yang akan bisa dimasuki sehingga akan membuat mereka luluh. Sebagian lagi akan membuangnya begitu saja dengan sejuta sumpah serapah ataupun penyesalan yang sangat dalam.

Apakah dengan begitu kita akan merasa nyaman? Setiap orang pasti mempunyai cara yang berbeda-beda untuk menghadapi suatu perasaan yang berhubungan dengan hati. Ada dari mereka berusaha untuk merasa nyaman dengan membohongi diri sendiri. Mereka membohongi diri mereka dengan pura-pura sudah melupakan ataupun berusaha membenci seseorang tersebut.

Kenapa harus membohongi? Bukankah akan lebih nyaman bila kita tidak menutupi apa yang benar-benar kita rasakan. Dan bagaimana agar tidak sakit?

Pertama, kamu harus tau dahulu apa yang akan kamu pilih, terus mengetuki pintu hatinya, atau akan meninggalkan pintu itu. Bila kamu akan terus mengetuki pintu hatinya, kamu harus punya alasan yang kuat untuk tetap bertahan karena dengan itu kamu akan lebih kuat pula untuk menjalani semuanya. Walaupun nantinya kamu akan diperlakukan secara tidak layak (misal : diomelin, dicuekin / disakiti hatinya).

Bila kamu punya alasan yang kuat maka kamu akan bisa menghadapi lebih dari itu. Dan bila kamu lebih memilih untuk tidak terpaku pada pintu itu, maka belajarlah apa yang dinamakan “ikhlas” bahwa dia akan mendapatkan yang lebih dari kamu. Dan itulah hal tersulit untuk bisa mendapatkan keikhlasan.

Terus bagaimana? Mulailah untuk menata kembali hatimu, bila kamu pernah mempunyai sesuatu yang akan mengingatkanmu padanya, lakukanlah hal itu secara berulang-ulang karena dengan itu kamu akan menjadi terbiasa dan tidak lagi teringat padanya. Janganlah berusaha membencinya karena semua itu akan membuat kamu merasa tertekan karena kamu akan selalu mencari cara untuk membencinya dan malah akan menyakiti dirimu sendiri karena itulah kebohongan yang sedang kamu lakukan. Dari setiap pilihan pasti ada suatu konsekuensi yang harus dijalankan. Kamu harus punya komitmen untuk melakukan konsekuensi yang harus kamu lakukan bila telah memilih suatu pilihan tersebut.

Bila mereka memintamu menjadikan hanya sebagai seorang temannya, kenapa tidak? Kamu tidak perlu sakit hati bila mereka akan bercerita mengenai pria/wanita lain yang sedang singgah di hatinya. Kenapa harus ragu untuk menerimanya hanya menjadi seorang sahabat.

Bagaimana caranya? Mulailah dengan perlahan dan jangan dipaksakan, lambat laun kamu pasti akan bisa menerima cerita-cerita itu. Mulailah berpikir bahwa bila mereka hanya mengartikan kehadiranmu sebagai seorang sahabat, artikanlah mereka sebagai seorang sahabat pula. Dengan begitu tidak ada yang salah dalam menterjemahkan arti sebuah hati.

Percayalah setiap hal yang sedang terjadi padamu saat ini adalah penentu kualitas kedewasaanmu”

Terinspirasi dari : Curhatan di hari Sabtu, Begitulah kira-kira…

Advertisements